Label

Rabu, 13 Juni 2012

Ekonomi Internasional : PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DAN KEUNGGULAN KOMPARATIF : MODEL RICARDO


Konsep Keunggulan Komparatif
Perdagangan intenasional dapat meningkatkan output dunia karena memungkinkan setiap negara memproduksi sesuatu yang keunggulan komparatifnya ia kuasai. Suatu negara memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam memproduksi suatu barang kalu biaya pengorbanannya dalam memproduksi barang tersebut (dalam satuan barang lain) lebih rendah dari pada barang-baran lainnya.
Dalam contoh hari Valatine 1996, yang terjadi tidak sampai seminggu dari pelaksaan pemilu pendahuluan menetukan tanggal 20 Februari di New Hampshire, AS, kandidat presiden dari Partai Republik Patrick Buchanan. Dalam kesempatan tersebut dia menyempatkan diri berpidato tentang peningkatan mawar impor ke AS, yang dikatakannya mengancam para petani mawar AS tersingkir dari bisnis itu.
Dalam contoh diatas, Amerika Serikat memiliki keunggulan komperatif dalam memproduksi mawar musim dingin, sedangkan AS memiliki keunggulan komparatif dalam membuat komputer. Standar hidup di kedua tempat akan sama-sama meningkat jika kemudian AS memasok kebutuhan komputer untu Amerika Selatan, sedangkan Amerika Selatan memasok kebutuhan mawar di AS. Di sini kita dapat melihat keterkaitan antar konsep keunggulan komparatif dengan perdagangan internasional: perdagangan antara dua negara akan menguntungkan kedua belah pihak jika masing-masing negara memproduksi dan mengekspor produk yang keunggulan koparatifnya ia kuasai.
Perekonomian Satu Faktor produksi
            Untuk memperkenalakan peran keunggulan komparatif dalam menentukan pola perdagangan, kita mulai dengan membayangkan bahwa kita tengah menghadapi suatu perekonomian-kita namakan saja Domestik-yang hanya memiliki satu faktor produksi, yaitu tenaga kerja. Kita dapat mengumpamakan bahwa perekonomian tersebut hanya menghasilkan dua barang saja, yakni anggur dan keju. Teknologi produksi yang digunakan oleh perekonomian Domestik tercermin dari tingkat produktivitas tenaga kerja di masing-masing sektor ekonominya. Jumlah kebutuhan tenaga kerja diukur dengan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk memproduksi satu kilogram keju atau satu galon anggur. Untuk rujukan selanjutnya, kita tetapkan aLW dan aLC  berturut-turut sebagai jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi anggur dan keju. Sumber daya total yang dimiliki oleh perekonomian itu dilambangkan dengan L, yakni total penawaran tenaga kerja.

Kemungkinan – kemungkinan Produksi
            Mengingat setiap perekonomian selalu meghadapi keterbatasan sumber daya, maka selalu terdapat pembatas-pembatas terhadap apa dan berapa yang bisa diproduksi, dan kita selalu harus memilih; artinya, untuk memproduksi satu barang dalam jumlah lebih banyak, maka kita harus mengurangi produksi barang lain. Pilihan-pilihan ini dicerminkan oleh suatu garis yang disebut sebgai kurva batas-batas kemungkinan produksi (production possibility frontier). Pada peraga 2-1, batas kemungkinan produksi (BKP) atau garis PF menunjukkan jumlah maksimal output anggur yang dapat diproduksi apabila perekonmian itu sebelumnya sudah menentukan jumlah keju yang diproduksi, atau sebalinya.
            Apabila hanya terdapat satu faktor produksi maka BKP berbentuk garis lurus. Kita dapat merumuskan garis ini sebagai berikut: Andaikanlah QW menunjukkan produksi anggur, sedangkan QC menunjukkan produksi keju. Dengan demikian, tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan adalah aLWQW, sementara aLCQc. Merupakan jumlah tenagakerja yang dipergunakan dalam menghasilkan keju. BKP ditentukan oleh jumlah sumber daya yang tersedia di dalam perekonomian yang bersangkutan, dalam hal ini, sumber daya yang dimaksud adalah faktor produksi tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja di dalam perekonomian dilambangkan oleh L. Jadi, batas-batas produksi dapat dirumuskan dalam bentuk ketidaksamaan berikut:
aLCQc + aLWQW ≤ L                                                      (2-1)

Peraga 2-1: Batas-batas kemungkinan produksi bagi perekonomian domestik
Garis PF menunjukkan jumlah maksimum keju yang dapat dihasilkan dengan adanya produksi anggur dalam jumlah tertentu, dan sebaliknya.
Produksi anggur Domestik, Qw, dalam satuan galon


 



L/a LW                                   Nilai kecendongan (slope) absolute sama dengan biaya yang pengorbanan keju dalam ukuran minimum


L/a Lc         Produksi keju domestik, Qc, dalam satuan kg                           
            Apabila BKP itu berbentuk garis lurus, maka biaya pengorbanan (opportunity cost) atas kegiatan memproduksi keju yang dinyatakan daam satuan nilai anggur adalah konstan. Biaya pengorbanan adalah jumlah galon anggur yang harus dikorbankan oleh perekonomian untuk memproduksi tambahan satu kilogram keju.
Harga-harga Relatif dan Penawaran
            Kita ketahui bahwa BKP menenjukkan kombinasi barang-barang yang dapat  diproduksi oleh suatu perekonomian. Untuk menetukkan barang apa yang akan diproduksi, kita perlu melihat variabel harga. Persisnya, kita harus mengetahui harga-harga relatif dari masing-masing barang, yaitu harga dari suatu barang yang dinyatakan dalam satuan nilai barang lain.
            Dalam sebuah perekonomian yang kompetitf, besar atau kecilnya penawaran ditentukan oleh upaya individu-individu dalam rangka memaksimalkan penghasilannya. Dalam perekonomian yang kita sederhanakan, dimana faktor produksi tenaga kerja  merupakan satu-satunya faktor produksi, penawaran keju dan anggur akan ditentukan oleh perpindahan tenaga kerja kke sektor yang memberikan tingkat upah lebih tinggi.
            Perekonomian akan melakukan spesialisasi dalam produksi keju jika harga relatif keju lebih tinggi dari biaya pengorbanannya, dan akan melakukan spesialisasi dalam produksi anggur jika harga relatif keju lebih dari biaya pengorbanannya.
            Tanpa adanya perdagangan internasional, perekonomian Domestik harus memproduksi sendiri kedua barang itu. Tetapi, perekonomian tersebut akan memproduksi kedua barang hanya jika harga relatif keju persis sama dengan biaya pengorbanannya. Karena biaya pengorbanan sama dengan nisbah jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi keju dan anggur, maka kita dapat menyimpulkan dengan “teori nilai pekerja” sedehana: Tanpa berlangsungnya hubungan perdagangan internasional, maka harga relatif barang-barang sama dengan kebutuhan relatif jumlah tenaga kerjanya.
Perdagangan Dalam Dunia Yang Hanya Memiliki Satu Faktor Produksi
Memang mudah untuk menjabarkan pola dan dampak perdagngan antara dua negara jika msaing-masing negara hanya memiliki satu faktor prodksi saja. Namun, dari analisis ini dapat mengejutkan, dan memang tampaknya orang-orang awam yang tidak memahami perdagangan internasional sering rancu dalam mengambil kesimpulan. Dengan demikina, model perdagangan yang paling sederhana ini dapat memegang peranan penting dalam upaya memahami permasalahan-permasalahan dalam dunia nyata, seperti masalah mengenai apa sesungguhnya yang melandasi terjadi kegiatan persaingan internasional dan pertukaran internasional (antar-negara) yang wajar.
Namun, sebelum menginjak pada permasalahan-permasalahn ini, akan ada baiknya jika kita menjabarkan modelnya sendiri terlebih dahulu. Anggaplah hanya ada dua negara. Kita namakan kedua negara ini masing-masing domestik dan asing. Setiap negara hanya memiliki satu faktor produksi (tenaga kerja) saja, dan masing-masing dapat memproduksi dua barang; anggur dan keju. Seperti telah disinggung sebelumya, jumlah angkatankerja di domestik adalah L dan kebutuhan tenag kerja untuk memproduksi anggur dan keju berturut-turut adalah aLW dan aLC. Dalam mengidentifikasi negara asing, kita memanipulasi notasi dengan menambahkan tanda (*) di atas notasi yang digunakan untuk negara domestik. Dengan demikian, angkatan kerja di negara asing menjadi L*; kebutuhan tenaga kerja untukmemproduksi susu dan keju masing-masing  menjadi a*LW dan a*LC demikian pula halnya untuk yang lain.
Secara umum, kebutuhantenaga kerja dapat mengikuti suatu pola. Misalnya saja, perekonomian Domestik bisa kurang produktif dibandingkan dengan Asing dalam memproduksi anggur, akan tetapi Domestik lebih produktif dalam memproduksi keju, atau sebaliknya. Untuk sementara, kita hanya membuat satu asumsi acak bahwa:
aLC /aLW < a*LC/a*LW                                         (2-2)
atau, formulasi di atas dapat pula diubah dan dirumuskan kembali sebagai berikut:
aLC /a*LC < aLW/a*LW                                         (2-3)
Perlu ditekankan bahwa ada satu halperli segera dan sealu diingat: definisi keunggulan komparatif itu meliputi keempat jumlah kebutuhan tenaga kerja, jadi tidak hanya dua. Anda mungkin mengira bahwa untuk menetukan siapa yang akan siapa yang akan memproduksi keju dan siap yang akan memproduksi anggur, yang perlu diperhatikan yaitu perbandingan kebutuhan tenaga kerja dalam memproduksi keju di kedua negara yakni  aLC  dan a*LC  (demikian pula halnya untuk anggur) jadi seandainya saja aLC < a*LC , maka otu berarti para pekerja Domestik lebih efisien daripada Asing dalam memproduksi keju. Ini adalah suatu keadaann di mana Domestik dikatakan memiliki suatu keunggulan mutlak (absolute advantage) dalam produksi keju.
Kita tidak dapat menentukan pola perdagangan hanya berdasarkan keunggulan mutlak itu saja. Salah satu penyebab kesalahan terpentingdalam sebagian besar pembahasan mengenai perdagangan internasional adalah adanya pencampur adukan konsepsi atau makna keunggulan komparatif itu dengan keunggulan mutlak.

Tanpa adanya perdagangan internasional, harga relatif keju dan anggur di setiap negara sapenuhnya akan ditentukan oleh kebutuhan relatif jumlah tenaga kerja di masing-masing sektor di setiap negara. Dengan demikian, harga relatif keju pada perekonomian domestik adalah aLC /aLW ; sedangkan di Asing adalah a*LC/a*LW.
Peraga 2-2 : Batas Kemungkinan Produksi Bagi Perekonomian Asing
Karena jumlah kenutuhan tenaga kerja dalam menghasilkan keju di Asing lebih tinggi dibandingkan dengan di Domestik, maka bentuk kurva batas-batas kemungkinan produksi di Asing lebih curam.
Produksi anggur Asing Q*W, dalam satuan galon


 

             L*/a*LW

                                              


 

                        +1      PF*

                                     L*/a* LC         Produksi keju domestik, Qc, dalam satuan pon             
            Dengan berlangsungnya hubungan perdagangan internasional, maka harga tidak lagi semata-mata ditentukan oleh pertimbangan – pertimbangan domestik.
Penentuan Harga Relatif Setelah Adanya Perdagangan Internasional
Pada prinsipnya, harga atas barang-barang yang diperdagangkan secara internasional, seperti halnya harga atas barang-barang lainhya, selalu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan. Namun, dalam membahas keunggulan komparatif, kita harus menerapkan “analisis penawaran dan permintaan” secra hati-hati.
Salah satu cara yang bermanfaat untuk memadukan kedua pasar menjadi satu objek kajian adalah dengan tidakhanya menitikberatkan pada jumlah keju dan anggur yang ditawarkan dan yang diminta, akan tetapi juga pada penawaran dan permintaan relatif, yaitu pada jumlah keju yang ditawarkan satu yang diminta dibagi jumlah anggur yang ditawarkan atau yang diminta.
Peraga 2-3 : Permintaan dan Penawaran Relatif
Kurva RD menunjukkan bahwa besar-kecilnya permintaan untuk keju relatif terhadap anggur merupakan fungsi yang menurun dari (dipengaruhi secra terbalik) harga keju secara relatif terhadap anggur, sedangkan kurva RS menunjukkan penawaran keju relatif terhadap anggur RD merupakan fungsi menarik dari harga relatif yang sama.
            Harga relatif keju
Jika harga relatif keju berkisar antara aLC/aLW dan a*LC/a*Lw, maka penawaran relatif keju adalah sebagai berikut :
(L/aLC)/(L*/a*LW)                                                                     (2-4)
Kondisi keseimbangan harga relatif keju akan ditentukan oleh titik perpotongan antar kurva penawaran relatif dengan kurva permintaan relatif. Peraga 2-3 menunjukka kurva permintaan relatif RD yang berpotongan deengan kurva penawaran relatif RS pada titik 1, dimana harga relatif keju terletak di antara harga relatif di masing-masing negara sebelum berlangsungnya kegiatan perdagangan.
Dalam keadaan seperti ini setiap negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi suatu barang yang mempunyai keunggulan komparatif. Pada titik 2, harga relatif dunia kerja setelah perdagangan aLC/aLW, yang sama dengan iaya pengorbanan (opportunity cost) dari keju yang dinyatakan dalam satuan nilai anggur di Domestik.
Lantas apa arti penting dari hasil di atas? Jika harga relatif keju di dalam perekonomian Domestik sama dengan biaya pengorbanannya, perekonomian Domestik tidak perlu melakukan spesialisasi dalam produksi keju atau anggur. Dan kenyataannya, pada titik 2 Domestik harus memproduksi sejumlah anggur dan keju. Kita dapat menyimpulkan demikian dari kenyataan bahwa penawaran relative keju lebih rendah dari yang akan diproduksi jika Domestik melakukan spesialisasi sempurna. Namun, karena dalam perekonomian Asing, PC/PW lebih rendah daripada biaya pengorbanan dari keju yang dinyatakan dalam anggur, Asing melakukan spesialisasi sempurna dalam produksi anggur. Karenanya spesialisasi tetap perlu dilakukan, dan perekonomian yang bersangkutan akan melakukannya pada produksi barang yang memiliki keunggulan komparatif.
Untuk sementara, mari kita kesampingkan dahulu adanya kemungkinan bahwa salah satu perekonomian tidak melakukan spesialisasi sempurna. Kecuali dalam keadaan ini, hasil yang lazim diperoleh dari perdagangan adalah bahwa harga relatif atas barng yang diperdagangkan secara internasional (traded good), misalnya keju, terhadap barang yang lain (anggur), akan terletak di antara tingkat harga sebelum adanya perdagangan di masing-masing Negara.
Sebagai akibat dari konvergensi dalam harga relatif ini adalah, setiap Negara melakukan spesialisasi dalm produksi barng yang memiliki jumlah relatif kebutuhan tenaga kerja yang lebih rendah. Peningkatan harga relatif keju di Domestik akan menyebabkan Domestik melakukan spesialisasi dalam produksi keju, dan memproduksi pada titik F dalam Peraga 2-4a. Penurunan harga relatif keju dalam perekonomian Asing akan menyebabkan Asing melakukan spesialisasi dalam produksi anggur, serta memproduksinya pad titik F* pada Peraga 2-4b.

Peraga 2-4      Perdagangan dapat memperluas kemunginan-kemungkinan Konsumsi










(a)   Domestik                                                              (b) Asing

Keuntungan Perdagangan
Pada bagian pembahasan di atas kita telah mempelajari bahwa Negara-negara yang produktivitas tenag kerjanya saling berbeda di setiap industri akan melakukan spesialisasi produksi pada barang-barang yang dengan sendirinya berlainan. Selanjutnya kita juga telah menyimak bahwa dua Negara berpotensi untuk memperoleh keuntungan perdagangan (gains from trade) dari adanya spesialisasi. Perdagangan yang saling menguntungkan ini dapat ditunjukkan dengan dua cara.
Adapun cara pertama guna menunjukkan bahwa spesialisasi dan perdagangan akan saling menguntungkan pihak-pihak yang terlibat adalah dengan membayangkan perdagangan sebagai sebuah metode produksi yang bersifat tidak langsung. Perekonomian Domestik sebenarnya bisa saja menghasilkan anggur sendiri secara langsung, tetapi perdagangan dengan Asing memungkinkan Negara tersebut untuk “menghasilkan” anggur dengan memproduksi lebih banyak keju dan kemudian mempertukarkan sebagian kejunya itu dengan anggur. Metode tidak langsung dalam “menghasilkan” satu gallon anggur ini merupakan cara yang lebih efisien bila dibandingkan dengan produksi langsung. Perhatikan pula dua alternatif dalam menggunakan satu jam kerja. Di satu sisi, perekonomian Domestik dapat menggunakan satu jam kerja secara langsung untuk menghasilkan 1/aLW galon anggur. Atau, sebagai alternatifnya, Domestik dapat menggunakan satu jam kerja yang persis sama untuk menghasilkan 1/aLC kilogram keju. Keju ini selanjutnya dapat ditukarkan dengan anggur, di mana setiap satu kilogram keju dapat ditukarkan dengan PC/PW galon anggur, sehingga jam kerja yang sam tadi menghasilkan (1/aLC)(PC/PW) galon anggur. Dengan cara demikian, akan lebih banyak anggur yang diperoleh perekonomian Domestik dibandingkan dengan yang akan didapatnya jika ia memproduksinya sendiri secara langsung, asalkan:
(1/aLC)(PC/PW) > 1/aLW                                                 (2-5)
Atau
PC/PW>aLC/aLW
Namun, kita juga telah mengetahui bahwa dalam kondisi keseimbangan internasional, jika tidak ada satu Negara pun yang memproduksi kedua barang (anggur dan keju) secara sekaligus, kita harus memastikan terpenuhinya syarat PC/PW>aLC/aLW. Hal ini menunjukkan perekonomian Domestik dapat “menghasilkan” anggur secara lebih efisien dengan memproduksi keju saja dan menjualnya atau menukarkannya dengan barang lain, daripada jika ia memproduksi sendiri barang lain tersebut. Demikian pula halnya, perekonomian Asing dapat “menghasilkan” keju secara lebih efisien dengan cara memproduksi anggur saja untuk kemudian menjualnya atau menukarkannya untuk memperoleh keju. Inilah salh satu cara pokok dalam melihat bahwa kedua Negara sama-sama dapat memperoleh keuntungan dari berlangsungnya hubungan perdagangan.
Sedangkan cara yang lain untuk melihat kenyataan bahwa perdagangan itu membuahkan keuntungan timbal balik kepada semua pihak yang terlibat adalah dengan memahami bagaimana hubungan perdagangan mempunyai itu berdampak terhadap pilihan-pilihan dalam kegiatan konsumsi di setiap masing-masing Negara. Tanpa adanya hubungan perdagangan, pilihan-pilihan konsumsi di setiap Negara akan persis sama dengan kemungkinan-kemungkinan pruduksinya (garis lurus PF dan P*F* yang telah disajikan pad Peraga 2-4). Namun dengan terjadinya perdagangan, setiap perekonomian dapat mengkonsumsi berbagai kombinasi keju dan anggur yang berbeda dengan kombinasi produksinya. Dalam kalimat lain, pilihannya menjadi lebih banyak. Pilihan-pilihan konsumsi ini (yakni bagi perekonomian Domestik) ditunjukkan oleh garis terputus-putus T*F* dalam peraga 2-4a, sedangkan pilihan-pilihan konsumsi (bagi perekonomian Asing) ditunjukkan oleh F*T* dalam peraga 2-4b. Setiap hubungan perdagangan senantiasa cenderung memperluas jangkauan pilihan, dan karenanya perdagangan dapat membuat tingkat kesejahteraan penduduk dari setiap Negara menjadi lebih tinggi.
Contoh Numerik
Pada bagian ini, kita akan menggunakan sebuah contoh numerik demi memperkokoh pemahaman kita terhadp dua hal pokok berikut:
Jika dua Negara melakukan spesialisasi dalam memproduksi barang di mana mereka memiliki keunggulan komparatifnya, maka kedua Negara itu akan untung jika berdagang.
Keunggulan komparatif jangan dampai dicampuradukkan dengan keunggulan absolut; keunggulan komparatiflah, bukan yang absolut, yang menentukan siapa yangt akan dan yang seharusnya memproduksi suatu jenis barang.
Misalkan, jumlah kebutuhan tenaga kerja pada perekonomian Domestik serta Asing adalah seperti yang tercantum pad Tabel 2-2.
Tabel 2-2 menunjukkan satu hal yang mengagetkan, yakni bahwa kebutuhan tenaga kerja dalam memproduksi kedua jenis barang itu pada perekonomian Domestik lebih sedikit dibanding dengan yang dibutuhkan Asing. Artinya, perekonomian Domestik memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi di kedua sektor ekonomi (anggur dan keju) daripada perekonomian Asing. Namun, untuk sementara waktu, kita lewati dulu observasi dari sisi ini. Sebelumnya kita terlebih dahulu akan menitikberatkan perhatian pada pola perdagangan.
Unsur pertama yang perlu ditentukan adalah harga relatif keju, yakni PC/PW. Harga relatif ini tergantung sepenuhnya pad permintaan; namun, kita mengetahui bahwa harga relatif ini harus terletak di antar tingkat-tingkat biaya pengorbanan keju di dua Negara. Dalam perekonomian Domestik, aLC=1, aLW=2; dengan demikian, biaya pengorbanan keju dinyatakan dalam anggur di Negara itu adalh aLC/aLW=1/2. Sedangkan pada perekonomian Asing, a*LC=6, a*LW=3; itu berarti biaya pengorbanan keju=2. Dalam keseimbangan dunia, harga relatif keju harus terletak di antara kedua ini. Khusus dalam contoh ini, kita mengasumsikan keseimbangan dunia adlah PC/PW=1: satu kilogram keju dapat dipertukarkan dengan satu galon anggur.
Dengan tingkat harga relative keju ini, kita segera dapat melihat bahwa setiap negara akan melakukan spesialisasi, yakni perekonomian Domestik akan berspesialisasi dalam usaha berproduksi keju, sedangkan Asing dalam anggur. Untuk mengujinya, catat bahwa seorang pekerja di Domestik hanya akan memperoleh pendapatan separuh jika memproduksi anggur dari pendapatan yang bias diperolehnya jika ia memproduksi keju, sementara itu di Asing adalah kebalikannya.
Selanjutnya kita bias menganalisis adanya keuntungan perdagangan. Pertama, kita perlu menunjukkan bahwa Domestik dapat “memproduksi” anggur secara lebih efisien dengan cara yang tidak langsung, yakni dengan menghasilkan keju dan lantas mepertukarkannya dengan anggur daripada memproduksinya secara langsung. Hal ini mudah dipahami: dengan melakukan produksi anggur secara langsung, dalam satu jam tenaga kerja, Domestik hanya memproduksi ½ galon anggur. Dengan waktu yang sama Domestik dapat memanfaatkan tenaga kerja itu guna menghasilkan 1 kilogram keju, yang selanjutnya dapat ditukarkan dengan 1 galon anggur. Ini menunjukkan bahwa Domestik benar-benar bias memperoleh keuntungan perdagangan. Demikian pula bagi perekonomian Asing. Dalam satu jam tenaga kerja Asing dapat memproduksi 1/6 kilogram keju; tetapi dengan waktu yang sam mereka dapat memproduksi 1/3 galon anggur, dan menukarkannya dengan 1/3 kilogram keju. Itu sama dengan dua kalinya 1/6 kg keju yang diperoleh dengan menggunakan waktu yang sama untuk memproduksi keju secara langsung. Dalam contoh ini, secara jelas telah ditunjukkan bahwa dengan adanya hubungan perdagangan, setiap Negara dapat menggunakan tenaga dua kali lipat lebih efisien dibandingkan jika mereka memproduksi sendiri barang-barang yang sebenarnya bias diimpornya.
Upah Relatif
Perbincangan politik perihal perdagangan internasional acapkali terfokus pada perbandingan tingkat upah di berbagai Negara. Sebagai contoh, para penentang perdagangan bebas antara AS dan Meksiko acapkali menekankan bahwa pekerja Meksiko rata-rat hanya dibayar $2 per jam, sedangkan di AS $15. Pembahasan kita mengenai perdagangan internasional sampai sejauh ini belum secara eksplisit membandingkan upah di kedua Negara, namun hal itu sebenarnya mungkin saja dilakukan dalm konteks contoh numerik ini. Kita bias mengetahui bagimana perbandingan tingkat upah di dua Negara itu.
Dalam contoh, kita disebutkan bahwa begitu masing-masing negara melakukan spesial­isasi, semua pekerja dalam perekonomian Domestik akan hanya memproduksi keju. Mengingat untuk memproduksi 1 kilogram keju para pekerja di negara itu hanya membutuhkan waktu selama 1 jam, maka tingkat upah di Domestik (untuk satu jam kerja) adalah sama dengan 1 kilogram keju. Sementara itu perekonomian Asing akan memproduksi anggur, dan para pekerjanya memerlukan 3 jam kerja untuk menghasilkan 1 galon anggur; sehingga tingkat upah di Asing adalah senilai 1/3 galon anggur per jam kerja.
Untuk mengubah angka-angka itu ke dalam satuan uang, kita perlu mengetahui harga keju dan anggur. Andaikan saja harga satu kilo keju sama dengan segalon anggur, yakni $12. Berdasarkan harga itu, maka pekerja Domestik memperoleh upah $12 per jam, sedangkan pekerja Asing hanya $4 per jam. Upah relatif (relative wage) dari pekerja di suatu negara adalah jumlah pembayaran yang mereka terima per jamnya, dibandingkan dengan jumlah pembayaran per jam yang diterima pekerja di negara lain. Jadi, upah relatif para pekerja Domestik adalah 3.
Jelaslah bahwa upah relatif ini tidak tergantung pada berapa persisnya harga sekilo keju; entah $12 atau $20, selama harga segalon anggur sama besarnya. Jadi, selama harga relatif keju yakni harga sekilo keju dibagi harga segalon anggur sama dengan 1, upah pekerja Domestik akan tetap tiga kali lipat dari upah pekerja Asing.
Perhatikan bahwa perbandingan tingkat upah itu identik dengan rasio atau nisbah produktivitas di kedua industri di masing-masing negara. Dalam memproduksi keju, tingkat produktivitas perekonomian Domestik enam kali lebih tinggi daripada Asing, tetapi hanya satu setengah kali dalam produksi anggur, dan akhirnya tingkat upah di Domestik ini tiga kali lebih tinggi dari Asing. Oleh karena itu, tingkat upah relatif ini merupakan penghubung antara produktivitas relatif yang terbentuk di setiap negara dengan keunggulan biaya dalam satu barang. Karena tingkat upah yang lebih rendah, Asing memiliki keunggulan biaya dalam anggur, meskipun produktivitas tenaga kerja di negeri ini secara keseluruhan lebih rendah daripada yang ada di Domestik. Domestik memiliki keunggulan biaya dalam keju meskipun tingkat upahnya lebih tinggi, sebab upah yang lebih tinggi dapat dikompensasikan oleh tingkat produktivitas yang lebih tinggi.
Sampai sejauh ini, kita telah mengembangkan semua model perdagangan internasional yang paling sederhana. Ternyata model perdagangan satu faktor ala Ricardo terlalu sederhana untuk melakukan analisis secara lengkap dalam membahas sebab-sebab dan dampak perdagangan internasional. Namun, penitikberatan kepada produktivitas pekerja relatif itu dapat menjadi suatu perangkat analisis yang sangat bermanfaat dalam rangka memahami perdagangan internasional. Dalam hal-hal tertentu, model satu faktor merupakan cara yang paling baik untuk mengatasi sejumlah kerancuan yang sering terjadi dalam upaya mema­hami keunggulan komparatif dan sifat dasar dari keuntungan perdagangan bebas. Kerancuan-kerancuan ini kerap muncul dalam perdebatan umum yang berlangsung di seputar kebijakan ekonomi internasional, dan kerap pula muncul dalam pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh mereka yang menganggap dirinya sebagai ahli, maka dari itu pada bagian pembahasan selanjutnya kita perlu menyisihkan waktu untuk membahas beberapa kesalahpahaman atau kerancuan yang paling sering terjadi tentang keunggulan komparatif, ditinjau dari model yang telah kita kembangkan.

BERBAGAI KERANCUAN TENTANG KONSEPSI KEUNGGULAN KOMPARATIF
Begitu banyak gagasan dalam ilmu ekonomi yang dicampuradukkan dalam pengertian dan penerapannya. Kalangan politisi, para pengusaha dan bahkan para ekonom sendiri acapkali melontarkan pernyataan yang tidak didasarkan pada analisis ekonomi yang cermat. Untuk beberapa alasan, hal ini relatif sangat sering terjadi dalam ekonomi internasional. Jika Anda membaca kolom berita bisnis pada surat kabar atau majalah mingguan, Anda akan menjumpai setidaknya satu artikel yang berisi pernyataan aneh atau bahkan ngawur tentang perdagangan internasional. Tiga kerancuan berikut, sebagai contoh, membuktikan secara jelas kenyataan yang cukup memprihatinkan itu. Model sederhana tentang keung­gulan komparatif yang telah kita kembangkan di atas agaknya dapat digunakan untuk meninjau mengapa mereka melakukan kesalahan.
Produktivitas dan Daya Saing
Mitos 1: Perdagangan bebas hanya akan menguntungkan jika negara Anda cukup produktif dalam menghadapi persaingan internasional. Argumentasi semacam ini, yang sangat kerap digunakan dalam pembahasan atas negara-negara berkembang, menyatakan secara implisit bahwa negara-negara miskin sebaiknya menutup diri saja dari kegiatan-kegiatan perekonomian internasional sampai mereka cukup kuat untuk bersaing dengan negara lain. Sebagai contoh, ada seorang ahli sejarah terkemuka yang belum lama ini melontarkan pernyataan sembrono, yang mengecam perdagangan bebas, yang menurut pendapatnya tidak akan pernah terwujud dalam kenyataan. "Apa yang akan terjadi jika anda tidak dapat memproduksi apa pun yang lebih murah atau lebih efisien ketimbang negara-negara lain, kecuali kalau anda tega terus-menerus memotong biaya tenaga kerja?" katanya.
Pendapat para pengamat tersebut menimbulkan masalah karena tidak mampu memahami hakikat model yang disusun oleh Ricardo, bahwa keuntungan dari perdagangan bergantung pada keunggulan komparatif bukannya keunggulan absolut. Perhatian Ricardo adalah pada negara anda mungkin akhirnya tidak memiliki barang yang bisa diproduksi lebih efisien daripada negara lain yakni anda bisa mungkin tidak memiliki keunggulan absolut pada barang apa saja.
Guna melihat kekeliruan konseptual dalam pandangan tersebut, kita perlu kembali memperhatikan contoh numerik sederhana yang telah kita bahas sebelumnya. Dalam contoh itu, telah dipaparkan bahwa perekonomian Domestik membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dan karena itu produktivitasnya lebih tinggi di kedua sektor, keju dan anggur. Namun, sebagaimana yang telah kita ketahui, kedua negara masih dapat memperoleh keuntungan perdagangan.
Kenyataan ini anehnya justru seringkali menimbulkan anggapan keliru, yakni bahwa kemampuan mengekspor suatu barang oleh suatu negara sepenuhnya tergantung kepada keunggulan absolut dalam tingkat produktivitas. Apa yang sering tidak dipahami adalah bahwa keunggulan produktivitas mutlak terhadap negara-negara lain dalam memproduksi suatu barang bukan merupakan suatu kondisi yang perlu (necessary condition) atau pun cukup (sufficient condition) untuk memiliki keunggulan komparatif dalam produksi barang tersebut. Dalam model satu faktor yang telah kita bahas, alasan mengapa produktivitas mutlak dalam suatu industri bukan merupakan kondisi yang perlu atau pun cukup untuk memiliki keunggulan dalam persaingan kiranya sudah jelas: Keunggulan kompetitif dari suatu industri tidak hanya tergantung pada produktivitas relatif terhadap industri luar negeri, melainkan juga pada tingkat upah domestik relatif terhadap tingkat upah di luar negeri. Tingkat upah suatu negara, pada gilirannya, akan tergantung pada produktivitas relatif pada industri-industri lain di negara tersebut. Dalam contoh numerik di atas, perekonomian Asing kurang efisien jika dibandingkan dengan Domestik dalam mempro­duksi anggur, namun ketidakunggulan (disadvantage} produktivitas relatif yang lebih besar ada pada produksi keju. Karena produktivitas yang lebih rendah di kedua negara industri ini, Asing harus membayar upah dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan Domestik, sedemikian rendahnya sehingga mengakibatkan biaya yang lebih rendah dalam produksi anggur. Sama halnya dengan di dunia nyata di mana Portugal memiliki produk­tivitas yang rendah dalam produksi, katakanlah, pakaian jadi dibandingkan dengan industri pakaian jadi di Amerika Serikat; akan tetapi karena ketidakunggulan produktivitas Portugal lebih besar pada industri-industri lainnya, maka industri pakaian di Portugal akan membayar upah yang sedemikian rendahnya demi memperoleh keunggulan komparatif dalam industri pakaian jadi.
Akan tetapi, bukankah keunggulan persaingan yang dibentuk atas dasar tingkat upah rendah merupakan sesuatu yang tidak wajar? Banyak sekali orang yang berpendapat demikian; dan keyakinan-keyakinan semacam itu dapat kita rangkum menjadi kerancuan kedua sebagai berikut.
Argumen Tenaga Kerja yang Murah
Mitos 2: Persaingan internasional itu tidak adil dan merugikan negara-negara tertentu karena didasarkan kepada upah yang rendah. Argumen ini, seringkali disebut sebagai argumen tenaga kerja murah (pauper labor argument), terutama digunakan oleh kalangan serikat buruh di negara-negara maju untuk menuntut perlindungan dari pemerintah terhadap tekanan persaingan dari produk-produk luar negeri. Mereka yang meyakini kebenaran pandangan ini selalu mendesak agar industri-industri dalam negeri dilindungi atau diberi proteksi agar jangan sampai digilas oleh industri-industri luar negeri yang sebenarnya kurang efisien, tapi bisa dijual dengan harga lebih murah karena para produsennya membayar upah yang sangat rendah. Pandangan ini sempat berkembang dan diterima luas secara politik. Pada tahun 1993, Ross Perot, milyuner mandiri yang pernah menjadi calon presiden AS, pernah memperingatkan perdagangan bebas antara AS dan Meksiko akan merugikan AS karena upah di Meksiko yang sangat rendah akan memindahkan industri-industri AS ke sebelah selatan (ke Meksiko). Pada tahun yang sama, Sir James Goldsmith, milyuner mandiri lainnya yang memiliki pengaruh besar di Parlemen Eropa, melontarkan pandangan serupa dalam bukunya yang berjudul "Jebakan" (The Trap). Anehnya, buku ini malah menjadi best-seller di Perancis.
Namun, contoh sederhana yang telah kita ulas kembali bisa menunjukkan kerancuan dari argumen ini. Dalam contoh di atas, perekonomian Domestik lebih produktif daripada Asing di kedua industri, dan biaya produksi anggur yang lebih rendah di negara Asing sepenuhnya karena tingkat upah yang lebih rendah. Namun, tingkat upah yang lebih rendah di Asing tidak relevan dengan pertanyaan apakah Domestik memperoleh keuntungan perdagangan. Apakah tingkat biaya produksi anggur yang lebih rendah dalam perekonomian Asing ditentukan oleh produktivitas yang tinggi atau upah yang rendah sesungguhnya bukanlah meru­pakan masalah. Yang menjadi masalah bagi Domestik adalah, baginya akan lebih murah untuk menggunakan tenaga kerja yang dimilikinya guna memproduksi keju dan menukarkannya dengan anggur daripada ia memproduksi anggur sendiri.
Ini merupakan suatu hal yang sangat baik bagi Domestik; akan tetapi bagaimana dengan Asing? Tidakkah ada sesuatu yang salah dengan mendasarkan ekspor suatu negara pada upah yang murah? Tentu saja hal itu bukan merupakan suatu cara utama yang perlu dipupuk, namun gagasan yang mengatakan bahwa perdagangan hanya akan menguntungkan jika Anda menerima upah tinggi jelas merupakan suatu kekeliruan konseptual yang fatal.

Eksploitasi
Mitos 3: Perdagangan akan mengeksploitasi suatu negara dan menurunkan tingkat kesejahteraannya jika pekerjanya menerima upah lebih rendah daripada pekerja di negara-negara lain. Argumen seperti ini sering dilontarkan secara emosional. Sebagai contoh, seorang kolumnis pernah membandingkan pendapatan seorang presiden direktur perusahaan

Tabel 2-3 Perubahan-perubahan Upah dan Produktivitas

Produktivitas (% dari tingkat di AS)                 Persentase Kenaikan 1963-1996

Negara
1963
1996
Produktivitas
Upah Riil
Amerika Serikat
100
100
49
34
Jerman Barat
58
91
133
192
Jepang
32
76
260
220
Korea Selatan
14
50
432
Tidak ada data

rangkaian toko busana yang mencapai $2 juta per tahun dengan upah $0,56 per jam dari para pekerja di pabrik-pabrik tekstil di Amerika Tengah yang memasok produk untuk toko-toko sang presdir. Perbandingan seperti ini memang langsung mengusik nurani keadilan kita, dan memang menyedihkan bahwa upah di banyak negara masih sedemikian rendah.
Namun, kalau kota bisa mengenai perlu tidaknya perdagangan bebas, maka pertanyaan yang lebih relevan untuk diajukan adalah negara pengekspor produk yang dibuat dengan pekerja berupah rendah itu menjadi lebih sejahtera atau tidak dengan adanya perdagangan; bukannya tentang berapa seharusnya para pekerja itu dibayar. Pertanyaan lain yang juga relevan, apa alternatifnya?
Meskipun abstrak, contoh numerik itu menegaskan kita tidak bisa menyatakan upah rendah sebagai wujud eksploitasi, tanpa mengetahui alternatifnya. Ditunjukkan di situ pekerja Asing menerima upah jauh lebih rendah daripada pekerja Domestik. Kalau kolumnis itu membacanya, mungkin ia akan langsung menuding adanya eksploitasi di situ. Namun jika Asing menanggapi "eksploitasi" itu dengan menutup perdagangannya dengan Domestik (atau menuntut sektor ekspornya untuk menaikkan gaji pekerja, yang akan menimbulkan dampak serupa), maka yang akan terjadi justru penurunan upah riil para pekerjanya sendiri. Daya beli tiap pekerjanya akan turun dari 1/3 menjadi hanya 1/6 kilo keju.
Kolumnis yang membuat perbandingan tajam itu mungkin termotivasi oleh kemarahannya atas begitu rendahnya tingkat upah di kawasan Amerika Tengah. Namun, kalau ia menganjurkan agar mereka menghentikan ekspor, itu sama saja ia menjerumuskan mereka karena hal itu akan membuat upah mereka lebih kecil lagi.

KEUNGGULAN KOMPARATIF DENGAN BANYAK BARANG
Hingga saat ini, pembahasan yang kita lakukan didasarkan pada sebuah model di mana hanya ada dua barang yang diproduksi dan dikonsumsi. Analisis yang sederhana ini memungkinkan kita menangkap konsep-konsep pokok mengenai keunggulan komparatif dan perdagangan. Selain itu, seperti telah kita singgung pada bagian pembahasan yang terdahulu, analisis tersebut merupakan bekal berharga dalam mempelajari masalah-masalah kebijakan. Namun untuk beranjak ke kenyataan sehari-hari, adalah penting untuk memahami bagaimana keunggulan komparatif berlaku untuk model dengan banyak barang.

Penyusunan Model
Untuk sejenak, man kita bayangkan lagi dunia yang hanya terdiri dari dua negara saja, yakni Domestik dan Asing. Sama dengan kasus sebelumnya, setiap negara hanya memiliki satu faktor produksi; yaitu tenaga kerja. Namun, kini setiap negara diasumsikan dapat mengkonsumsi dan memproduksi banyak barang katakanlah, N jenis barang sekaligus. Kita nyatakan saja setiap barang dengan nomor, dari 1 sampai N.
Kondisi teknologi yang ada di masing-masing negara dapat dijelaskan atas dasar jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing barang, yaitu jumlah jam kerja yang dibutuhkan dalam memproduksi setiap jenis barang sebanyak satu unit. Jumlah tenaga kerja untuk setiap jenis barang dalam perekonomian Domestik kita lambangkan dengan  dimana i adalah jumlah barang. Keju kita tempatkan sebagai barang nomor 7, dan simbol  berarti jumlah kebutuhan tenaga kerja dalam produksi keju. Sesuai dengan aturan yang biasa kita gunakan dalam bagian-bagian pembahasan sebelumnya, kita akan melambangkan jumlah kebutuhan tenaga kerja pada perekonomian Asing dengan .
Dalam menganalisis terbentuknya pola perdagangan, kita perlu menggunakan lebih dari satu metode. Untuk satu jenis barang saja, kita dapat menghitung , yakni nisbah jumlah kebutuhan tenaga kerja Domestik terhadap Asing. Metode ini memungkinkan kita untuk memberikan lambang atau label tertentu kepada setiap jenis barang sedemikian rupa sehingga semakin kecil nomornya, semakin rendah pula rasionya. Dengan demikian, kita bisa menyusun urut-urutan berdasarkan nomor sebagai berikut:

Upah Relatif dan Spesialisasi
Selanjutnya mari kita bicarakan apa yang disebut sebagai pola perdagangan. Pola perda­gangan (pattern of trade) tergantung hanya pada satu hal: nisbah tingkat upah Domestik ter­hadap tingkat upah Asing. Jika kita mengetahui nisbah ini, maka kita segera dapat menentukan barang apa yang akan diproduksi oleh masing-masing negara.
Umpamakanlah saja w adalah tingkat upah per jam yang berlaku pada perekonomian Domestik, sedangkan w* adalah tingkat upah per jam pada perekonomian Asing. Nisbah tingkat upah, yang merupakan pusat perhatian kita, adalah w/w*. Kaidah untuk mengalokasikan produksi dunia adalah barang akan diproduksi di tempat di mana produksinya paling murah. Alasan utama yang mendasari perumusan di atas adalah bahwa suatu jenis barang akan selalu diproduksi di negara yang biaya produksinya paling rendah. Pada dasarnya. biaya untuk memproduksi suatu barang. katakanlah itu barang i, adalah jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk membuatnya dikalikan dengan tingkat upah untuk masing-masing pekerja. Jumlah biaya untuk memproduksi barang i pada perekonomian Domestik adalah waLi. sedangkan biaya untuk memproduksi barang yang sama di Asing adalah w*a*Li. Suatu barang akan diproduksi dengan lebih murah di Domestik jika,
waLi <w*a*Li
rumusan ini dapat pula dirombak kembali menjadi sebuah rumusan baru sebagai berikut:
a*Li /aLi>w/w*.
Di lain pihak, akan lebih murah memproduksi suatu barang di Asing apabila:
waLi >w*a*Li,
kembali, rumusan ini juga bisa dirombak menjadi sebagai berikut:
a*Li /aLi<w/w*.
Jadi, suatu barang yang  w/w* akan diproduksi di Domestik, sedangkan barang-barang yang  akan diproduksi oleh perekonomian Asing.
Pada paragraf di atas kita telah menyusun urut-urutan barang berdasarkan pada  yang makin meningkat (persamaan 2-6). Kriteria dalarn menentukan spesialisasi ini menjelaskan bahwa apa yang terjadi adalah suatu "penggalan" dari urut-urutan itu, yang ditentukan oleh nisbah tingkat upah kedua negara, w/w*. Semua barang yang ada pada penggalan yang sebelah kiri akan diproduksikan oleh perekonomian Domestik; sedangkan semua barang yang berada di penggalan sebelah kanan akan diproduksikan oleh perekono­mian Asing. (Mungkin juga terjadi, seperti yang kita lihat berikut ini, bahwa untuk suatu barang, nisbah tingkat upah persis sama dengan nisbah kebutuhan tenaga kerja. Dalam kasus seperti itu, batas pemisahnya adalah pada barang yang sama-sama diproduksi di kedua negara).
Tabel 2-4 menyajikan sebuah contoh numerik, di mana perekonomian Domestik dan Asing sama-sama mengkonsumsi dan dapat memproduksi lima jenis barang: apel, pisang, telur ikan (kaviar), kurma, dan encilada.
Dua kolom pertama dari label ini sudah cukup jelas. Kolom ketiga adalah nisbah antara kebutuhan tenaga kerja pada perekonomiani Asing dengan kebutuhan tenaga kerja di Domestik untuk setiap jenis barang atau, keunggulan produktivitas relatif Domestik untuk setiap barang. Kita telah memberi label ppada setiap jenis barang-barang tersebut dan mengurutkannya berdasarkan besar-kecilnya keunggulan produktivitas Domestik, dengan keunggulan yang paling besar pada apel, dan yang paling kecil pada encilada.
Penentuan barang apa saja yang diproduksi oleh setiap negara tergantung kepada nisbah tingkat upah di Domestik dan Asing. Perekonomian Domestik akan mempunyai keunggu­lan biaya pada barang yang produktivitas relatifnya lebih tinggi dari tingkat upah relatif, dan perekonomian Asing akan memiliki keunggulan pada barang-barang lainnya. Jika, misalnya, tingkat upah di Domestik 5 kali lipat dari Asing, maka apel dan pisang akan diproduksi di Domestik, sedangkan telur ikan, kurma dan encilada akan diproduksi di Asing. Namun, jika tingkat upah di Domestik hanya 3 kali lipat dari Asing, maka perekonomian Domestik akan memproduksikan apel, pisang dan telur ikan, sementara itu perekonomian Asing hanya akan memproduksi kurma dan encilada.

Tabel 2-4 jumlah kebutuhan tenaga kerja pada perekonomian domestik dan asing
Barang
Kebutuhan tenaga kerja domestik
Kebutuhan tenaga kerja asing
Keunggulan produktivitas relatif domestik
Apel
Pisang
Telur ikan
Kurma
Enchilada
1
5
3
6
12
10
40
12
12
9
10
8
4
3
0.75

Lantas apakah pola spesialisasi seperti ini saling menguntungkan bagi kedua negara? Kita dapat melihatnya dengan menggunakan metode yang sama seperti yang telah digunakan sebelumnya: membandingkan biaya tenaga kerja dalam memproduksi suatu barang secara langsung di suatu negara dengan seandainya barang tersebut "diproduksi" secara tidak langsung dengan memproduksi barang-barang lain dan menukarkannya dengan barang kebutuhan konsumsi yang dikehendaki melalui penyelengaraan hubungan perda­gangan internasional: Apabila tingkat upah di Domestik 3 kali lipat lebih tinggi dari tingkat upah di Asing, Domestik akan mengimpor kurma dan encilada. Untuk memproduksi 1 unit kurma, perekonomian Asing membutuhkan 12 unit tenaga kerja, namun biaya tenaga kerja guna memproduksi barang yang sama di Domestik, dengan perbedaan tingkat upah tertentu, hanya 4 jam kerja kurang dari 6 jam kerja jika memproduksinya di Domestik. Untuk encilada, Asing ternyata memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan tingkat upah yang lebih rendah, yakni Domestik hanya memerlukan 3 jam kerja untuk memperoleh 1 unit encilada jika ia melakukan perdagangan, dibanding dengan 12 jam kerja jika mem­produksinya di dalam negeri. Perhitungan serupa juga akan dapat menunjukkan bahwa Asing pun akan diuntungkan; setiap barang yang diimpor oleh Asing menjadi lebih murah jika dinyatakan dalam kebutuhan tenaga kerja barang yang diimpor tersebut dibandingkan kalau memproduksi barang tersebut di dalam negeri sendiri. Sebagai contoh, seorang pekerja Asing memerlukan 10 jam untuk memproduksi satu unit apel; meskipun dengan tingkat upah hanya sepertiga dari yang diterima pekerja Domestik, ia hanya memerlukan waktu 3 jam untuk membeli satu unit apel dari Domestik.
Akan tetapi, ada satu hal penting yang terlupakan dalam perhitungan di atas: kita belum menjelaskan bagaimana caranya menentukan tingkat upah relatif. Pembahasan berikut ini adalah penjelasannya.

Penentuan Tingkat Upah Relatif dalam Model Banyak Barang
Dalam rangka menentukan tingkat upah relatif dalam model dua barang, pertama-tama kita perlu menghitung tingkat upah di Domestik yang dinyatakan dalam satuan nilai keju dan tingkat upah di Asing yang dinyatakan dalam satuan nilai anggur, lantas menggunakan harga keju relatif terhadap anggur untuk memperoleh nisbah tingkat upah di kedua negara atau tingkat upah relatif untuk masing-masing negara. Kita dapat mengetahui tingkat upah relatif dengan cara-cara demikian karena sebelumnya kita telah mengetahui bahwa Domestik akan memproduksi keju dan Asing akan memproduksi anggur. Dalam kasus perekonomian banyak barang, siapa yang hams memproduksi apa akan sepenuhnya ditentukan oleh tingkat upah relatif; sehingga prosedur ini tidak dapat diterapkan. Oleh sebab itu, untuk menentukan tingkat upah relatif yang berlaku dalam suatu perekonomian yang mengenal banyak barang, kita harus memperhatikan permintaan relatif atas berbagai barang tersebut sehingga kita pun bisa mengetahui permintaan relatif untuk tenaga kerja. Ini bukanlah permintaan langsung dari konsumen; melainkan permintaan turunan (derived demand) yang diturunkan berdasarkan (berasal dari) permintaan atas barang-barang yang diproduksi oleh segenap tenaga kerja di masing-masing negara.
Permintaan turunan relatif bagi tenaga kerja di dalam perekonomian Domestik akan merosot apabila nisbah tingkat upah di Domestik terhadap perekonomian Asing meningkat. Ada dua alasan mengapa terjadi demikian. Pertama-kata, andaikata tenaga kerja Domestik, karena sesuatu alasan, menjadi semakin mahal secara relatif terhadap tenaga kerja Asing, 'maka barang-barang yang diproduksi di Domestik juga menjadi relatif lebih mahal, dan per­mintaan dunia untuk barang-barang ini menurun. Kedua, karena upah di Domestik meningkat, Domestik akan memproduksi lebih sedikit barang, sedangkan Asing akan memproduksi lebih banyak, yang pada gilirannya menurunkan permintaan terhadap tenaga kerja Domestik.
Kita dapat memperjelas adanya kedua dampak ini dengan menggunakan sebuah contoh numerik. Andaikan saja kita berawal dari keadaan berikut: pada awalnya, tingkat upah di Domestik 3,5 kali daripada tingkat upah di Asing. Pada tingkat ini, perekonomian Domestik akan memproduksi apel, pisang dan telur ikan, sedangkan Asing akan memproduksi kurma dan encilada. Jika upah relatif di Domestik meningkat dari 3,5 menjadi hampir 4, katakanlah 3,99 kali, pola spesialisasi tidak akan berubah. Akan tetapi, karena barang-barang yang diproduksi di Domestik menjadi relatif lebih mahal, maka permintaan relatif untuk barang-barang jenis tersebut akan turun dan permintaan relatif untuk tenaga kerja Domestik dengan sendirinya juga mengalami penurunan.
Kemudian, misalkan saja kini tingkat upah relatif sedikit mengalami kenaikan, yakni dari 3,99 menjadi 4,01. Perubahan kecil ini selanjutnya meningkatkan upah relatif di Domestik yang kemudian akan menyebabkan terjadinya pergeseran dalam pola spesialisasi. Karena kini produksi telur ikan lebih murah untuk dilakukan pada perekonomian Asing daripada di perekonomian Domestik, maka produksi telur ikan pun segera beralih dari Domestik ke Asing. Lantas implikasi apa yang ditimbulkan oleh kejadian ini terhadap permintaan relatif atas tenaga kerja Domestik? Jelas terlihat bahwa dengan peningkatan upah relatif dari hampir 4 menjadi sedikit di atas 4 mengakibatkan penurunan tajam dalam permintaan relatif, sehingga produksi telur ikan Domestik anjlok hingga nol, sehingga Asing memperoleh industri garapan yang baru. Jika tingkat upah relatif terus mengalami kenaikan, permintaan relatif terhadap tenaga kerja Domestik akan turun secara berangsur-angsur, kemudian merosot lagi pada tingkat upah relatif sebesar 8, yakni tatkala produksi pisang beralih ke perekonomian Asing.
Kita dapat menunjukkan penentuan upah relatif dengan diagram seperti pada Peraga 2-5. Tidak seperti Peraga 2-3, diagram ini tidak mempunyai kuantitas barang relatif dan harga relatif dari masing-masing barang tersebut pada sumbu-sumbunya. Sebagai penggantinya, sumbu-sumbu ini menunjukkan kuantitas tenaga kerja relatif dan tingkat upah relatif. Permintaan dunia bagi tenaga kerja Domestik relatif terhadap permintaan dunia bagi tenaga kerja Asing ditunjukkan oleh kurva RD. Sedangkan penawaran dunia atas tenaga kerja Domestik relatif terhadap tenaga kerja Asing ditunjukkan oleh garis RS.
Penawaran relatif tenaga kerja ditentukan oleh banyaknya jumlah tenaga kerja dalam perekonomian Domestik secara relatif terhadap jumlah tenaga kerja yang ada dalam perekonomian Asing. Dengan mengasumsikan jumlah jam kerja yang tersedia tidak bervariasi dengan tingkat upah, maka tingkat upah relatif tidak terpengaruh oleh penawaran relatif tenaga kerja sehingga RS berbentuk garis vertikal.
Pada bagian pembahasan mengenai permintaan relatif untuk tenaga kerja dijelaskan 'mengapa kurva RD berbentuk "tangga". Kapan pun kita meningkatkan jumlah pekerja Domestik secara relatif terhadap pekerja Asing, permintaan relatif terhadap barang-barang yang diproduksi di perekonomian Domestik akan menurun, dan demikian pula halnya dengan permintaan terhadap tenaga kerja Domestik. Selanjutnya, permintaan relatif ter­hadap tenaga kerja Domestik akan merosot tajam jika peningkatan upah relatif di Domestik membuat suatu barang menjadi lebih murah kalau diproduksi di Asing. Dengan demikian, bentuk RD menjadi berselang-seling, yakni antara bentuk garis menurun dari titik kiri atas ke sebelah kanan bawah ketika tidak ada perubahan dalam pola spesialisasi, dan berbentuk garis mendatar tatkala permintaan relatif bergeser secara tajam karena adanya suatu perge­seran dalam pola spesialisasi. Seperti ditunjukkan dalam Peraga 2-5, bentuk garis mendatar tersebut sepenuhnya sesuai dengan upah relatif yang menyamakan nisbah produktivitas pada perekonomian Domestik dengan yang ada di perekonomian Asing untuk masing-masing dari kelima barang yang ada.

Peraga 2-5 Penentuan Upah Relatif











 







Ada pun ekuilibrium atau keseimbangan tingkat upah relatif ditentukan oleh perpo­tongan RD dan RS. Seperti terlihat pada Peraga, keseimbangan upah relatif ada di titik 3. Pada tingkat upah ini Domestik memproduksi apel, pisang dan telur ikan sedangkan Asing memproduksi kurma dan encilada. Hasil ini sepenuhnya tergantung pada ukuran relatif (relative size) perekonomian atau negara (yang akan menentukan posisi RS) dan permintaan relatif untuk barang-barang (yang akan menentukan bentuk dan posisi RD).
Seandainya saja titik perpotongan antara RD dan RS terletak pada salah satu garis mendatar, maka kedua negara itu akan sama-sama memproduksi barang yang namanya tercantum pada garis yang bersangkutan.

PERLUASAN PERHITUNGAN DENGAN MEMASUKKAN BIAYA PENGANGKUTAN DAN BARANG-BARANG YANG TIDAK DAPAT DIPERDAGANGKAN SECARA INTERNASIONAL
Selanjutnya kita akan memperluas model agar lebih mendekati atau mirip terhadap realitas yang ada dengan memperhitungkan pengaruh-pengaruh tertentu oleh adanya biaya pengangkutan. Keberadaan biaya pengangkutan tidak mengubah prinsip-prinsip dasar keunggulan komparatif atau keuntungan perdagangan. Namun, karena biaya pengangkutan merupakan suatu bentuk penghambat dalam setiap pergerakan barang dan jasa, maka unsur biaya ini mengandung implikasi-implikasi yang cukup penting terhadap mekanisme pengaruh atas perekonomian dunia terbuka (aktif melakukan perdagangan) oleh berbagai faktor atau variabel ekonomi pokok seperti halnya bantuan luar negeri, investasi internasional dan neraca pembayaran. Mengingat kita belum mempelajari arti penting dan dampak-dampak yang ditimbulkan oleh faktor-faktor ini, maka model satu faktor produksi dengan banyak barang merupakan wahana yang baik untuk mengungkap pengaruh biaya pengangkutan.
Hal pertama yang perlu dicatat adalah, perekonomian dunia yang digambarkan oleh model pada bagian pembahasan yang terdahulu senantiasa ditandai oleh spesialisasi internasional yang ekstrim. Setidaknya ada satu barang yang diproduksi oleh setiap negara. Setiap jenis barang diproduksi di Domestik atau di Asing, akan tetapi tidak ada barang yang diproduksi oleh kedua negara secara sekaligus.
Ada tiga alasan utama mengapa pola spesialisasi dalam. kegiatan perekonomian internasional yang sesungguhnya tidak sekaku itu:
1.      Adanya lebih dari satu faktor produksi mengurangi kecenderungan menuju spesial­isasi (lihat penjelasan pada dua bab berikut).
2.      Negara-negara terkadang melindungi industrinya dari tekanan persaingan luar negeri (kenyataan ini dibahas dalam Bab 8 sampai 11).
3.      Pengangkutan barang dan jasa dari suatu tempat ke tempat lain senantiasa memerlukan biaya tersendiri yang cukup mahal, dan dalam kasus-kasus tertentu biaya pengangkutan ini sedemikian besarnya sehingga mendorong banyak negara untuk berswasembada pada sektor atau jenis barang tertentu.
Dalam contoh perekonomian dengan banyak barang pada bagian pembahasan yang ter­dahulu kita telah menjumpai fakta bahwa pada tingkat upah relatif di Domestik sebesar 3, Domestik dapat memproduksi apel, pisang dan telur ikan lebih murah daripada Asing, sedangkan Asing dapat memproduksi kurma dan encilada lebih murah daripada Domestik. Karenanya, tanpa biaya pengangkutan Domestik akan mengekspor tiga barang pertama dan mengimpor dua barang lainnya.
Sekarang anggaplah ada biaya untuk mengangkut barang, dan biaya pengangkutan ini persentasenya terhadap total biaya produksi sama besarnya, katakanlah sampai. 100 persen. Biaya pengangkutan ini jelas akan menghambat perdagangan. Sebagai contoh: kurma, 1 unit barang ini membutuhkan 6 jam kerja jika diproduksi di Domestik dan 12 jam kerja di Asing. Pada tingkat upah relatif 3, biaya 12 jam kerja di Asing setara dengan hanya 4 jam kerja di Domestik; maka tanpa adanya biaya pengangkutan, Domestik pasti akan mengimpor kurma. Akan tetapi dengan adanya biaya pengangkutan sampai 100 persen, biaya mengimpor kurma akan setara dengan 8 jam kerja di Domestik; sehingga tidak lagi keuntungan dari kegiatan mengimpor kurma sehingga Domestik akan berusaha memproduksinya sendiri.
Perbandingan biaya serupa menunjukkan bahwa Asing akan menghadapi kenyataan bahwa lebih murah memproduksi sendiri telur ikan daripada mengimpornya. Satu unit telur ikan yang diproduksi di Domestik membutuhkan 3 jam kerja. Meskipun pada tingkat upah relatif di| Domestik sebesar 3, yang membuatnya setara dengan 9 jam kerja di Asing, keadaan ini masih lebih murah apabila dibandingkan 12 jam kerja yang dibutuhkan oleh Asing untuk mempro­duksi sendiri telur ikan. Maka tanpa adanya biaya pengangkutan, akan lebih murah bagi Asing untuk mengimpor telur ikan daripada bersusah-payah untuk memproduksikannya sendiri dengan biaya yang lebih mahal. Namun sehubungan dengan adanya biaya pengangkutan sebe­sar 100 persen itu, maka biaya untuk mengimpor telur ikan akan setara dengan 18 jam kerja di Asing, dan oleh karena itu perekonomian Asing akan memilih untuk memproduksinya sendiri.
Selanjutnya, hasil dari pemasukan biaya pengangkutan ke dalam perhitungan pada contoh ini adalah, sementara Domestik tetap mengekspor apel dan pisang dan mengimpor encilada, telur ikan dan kurma menjadi barang-barang yang tidak menguntungkan untuk diperdagangkan secara internasional (non-traded goods) sehingga setiap negara akan berusaha untuk memproduksi sendiri barang-barang tersebut.
Pada contoh di atas kita mengasumsikan bahwa biaya pengangkutan merupakan unsur biaya produksi yang proporsinya sama besar di semua sektor ekonomi. Namun, dalam kenyataannya, terdapat beragam biaya pengangkutan. Bahkan dalam beberapa kasus transportasi sama sekali tidak dimungkinkan: jasa-jasa tertentu seperti jasa tukang cukur atau jasa reparasi mobil tidak dapat diperdagangkan secara internasional (kecuali di kawasan metropolitan yang memiliki perbatasan dengan negara lain, seperti Detroit-Windsor). Perda­gangan internasional juga bisa dibatasi oleh rasio atau nisbah berat produk terhadap nilai yang terlalu tinggi, seperti semen (artinya, produk yang bersangkutan sedemikian berat sehingga biaya transportasinya sangat mahal bila dibandingkan dengan nilainya sendiri). Itu sebabnya selama memang masih memungkinkan suatu negara biasa memproduksi semen sendiri ketimbang mengimpornya, sekalipun semen dapat diproduksi lebih murah di luar negeri). Banyak barang yang tidak diperdagangkan secara internasional karena tiadanya keunggulan efisiensi biaya nasional yang kuat dalam produksinya, atau karena biaya pengangkutannya yang terlampau mahal.
Ada satu catatan penting dari bagian pembahasan ini yang perlu diperhatikan, yakni banyak negara yang membelanjakan sebagian terbesar dari pendapatannya untuk membuat sendiri barang-barang yang tidak diperdagangkan secara internasional. Observasi ini cukup mengejutkan kalau kita mengaitkannya dengan soal transfer (alih) pendapatan secara internasional (hal ini dibahas dalam, Bab 5) dan pembahasan mengenai ekonomi moneter internasional.

BUKTI-BUKTI EMPIRIS BAGI MODEL RICARDO
Model Ricardo tentang perdagangan internasional merupakan alat analisis yang sangat bermanfaat untuk memahami alasan-alasan mengapa hubungan perdagangan antar-negara bisa terjadi, dan apa saja dampak yang dimunculkan oleh perdagangan internasional itu terhadap kesejahteraan. Tetapi apakah model ini benar-benar sesuai dengan keadaan di dunia nyata? Apakah model Ricardo bisa menghasilkan prediksi-prediksi kuat tentang arus perdagangan internasional yang sesungguhnya?
Jawabannya adalah: ya, bahkan dengan sangat meyakinkan. Memang ada berbagai hal yang membuat prediksi-prediksi model Ricardo menyesatkan. Dalam kalimat lain, model Ricardo itu sendiri diliputi oleh sejumlah kelemahan. Pertama, sebagaimana yang telah diutarakan dalam pembahasan tentang barang-barang tidak diperdagangkan secara interna­sional (non-traded goods) pada bagian sebelumnya, model Ricardo yang relatif sederhana itu memprediksikan suatu tingkat spesialisasi yang ekstrim sehingga kita tidak akan pernah menjumpainya di dunia nyata. Kedua, model Ricardo tersebut juga mengabaikan dampak-dampak negatif yang diakibatkan oleh hubungan-hubungan perdagangan interna­sional terhadap distribusi pendapatan di dalam suatu negara, dan karena itu prediksinya yang mengatakan bahwa suatu negara secara keseluruhan akan selalu memperoleh keuntungan perdagangan tidak bisa diterima. Dalam kenyataannya, hubungan perdagangan internasional selalu mengakibatkan dampak-dampak yang kuat terhadap distribusi pendapatan (ini merupakan pokok bahasan Bab 3). Kelemahan yang ketiga, model Ricardo tidak member! tempat bagi perbedaan-perbedaan dalam kepemilikan sumber daya (resources) antar-negara sebagai salah satu sumber atau penyebab terselenggarakannya perdagangan internasional, sehingga model tersebut menghilangkan satu aspek penting dari sistem perda­gangan (ini merupakan inti bahasan dalam Bab 4). Terakhir, model Ricardo mengabaikan kemungkinan peran skala ekonomis (economies of scale) sebagai penyebab perdagangan, sehingga ia tidak dapat menjelaskan berlangsungnya lalu lintas perdagangan yang begitu besar antara negara-negara yang sangat serupa dalam kepemilikan karunia sumber persoalan ini akan dibahas secara mendalam pada Bab 6.
Namun, terlepas dari kelemahan-kelemahan ini, prediksi pokok dari model Ricardo yang menyatakan bahwa negara-negara hendaknya mengekspor barang-barang yang mana negara tersebut memiliki produktivitas yang relatif tinggi diperkuat oleh bukti-bukti yang diperoleh dari sejumlah penelitian selama bertahun-tahun.
Beberapa uji klasik terhadap model Ricardo menggunakan data-data perbandingan produktivitas dan perdagangan Inggris dan AS pada tahun-tahun pertama seusai Perang Dunia Kedua. Perbandingan ini menyajikan gambaran yang begitu jelas. Produktivitas tenaga kerja Inggris lebih kecil daripada yang ada di AS, di hampir semua sektor. Karena itu, AS menguasai keunggulan absolut pada hampir semua sektor pula. Meskipun demikian, ekspor Inggris ke AS kurang lebih sama besarnya dengan ekspor AS ke Inggris pada saat itu. Jelaslah bahwa pada beberapa sektor tertentu, keunggulan komparatifnya dimiliki Inggris, meskipun produktivitas absolutnya lebih rendah. Berdasarkan model Ricardo, kita dapat menduga bahwa pada sektor-sektor itu keunggulan absolut AS paling kecil.
Peraga 2-6 memperlihatkan bukti-bukti yang mendukung kesahihan model Ricardo, dengan menggunakan data yang disajikan di dalam makalah ekonom terkemuka dari Hungaria, Bela Balassa. pada tahun 1963. Peraga ini bermaksud membandingkan nisbah ekspor Amerika Serikat terhadap Inggris pada tahun 1951 dengan nisbah produktivitas Amerika Serikat terhadap Inggris, untuk 26 produk industri manufaktur. Nisbah produk­tivitas diukur pada sumbu horizontal, sedangkan nisbah ekspor pada sumbu vertikal. Kedua sumbu dinyatakan dalam skala logaritma; ini bukan sesuatu yang sangat mendasar, melainkan sekedar untuk menghasilkan ilustrasi yang lebih jelas.
Teori Ricardo membawa kita pada suatu pemaparan umum bahwa semakin tinggi produktivitas relatif dalam perindustrian Amerika Serikat, maka akan semakin besar kemung­kinan bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk mengekspor produk industri terse­but. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Peraga 2-6. Dalam kenyataannya, pola persebaran yang terletak dekat di sekitar garis lurus, juga tercermin pada Peraga tersebut. Perlu diingat bahwa data yang digunakan untuk perbandingan di sini, seperti juga semua data ekonomi, mengandung kesalahan-kesalahan pengukuran yang bersifat mendasar (substantial measurement errors)', namun dalam hal ini tingkat keakuratannya kiranya sudah sangat tinggi.
Hal lain yang menarik untuk dicatat adalah bahwa bukti yang tercermin pada Peraga 2-6 memperkuat pengertian pokok yang ditonjolkan oleh Model Ricardo, yakni bahwa terlaksananya hubungan perdagangan internasional bergantung pada keunggulan komparatif, bukan pada keunggulan absolut/mutlak. Pada rentang waktu yang direpresentasikan oleh data, perindustrian Amerika Serikat mempunyai produktivitas yang lebih tinggi daripada perindustrian Inggris yakni mencapai rata-rata dua kali lebih tinggi. Kerancuan umum yang mengatakan bahwa suatu negara hanya dapat bersaing jika ia dapat mengalahkan produktivitas negara lain, seperti yang telah kita bahas pada bagian pembahasan terdahulu pada bab ini, terbukti patut diragukan, mengingat keunggulan ekspor Amerika Serikat terdapat pada semua industri, namun tokoh hubungan perdagangan dengan Inggris tetap berlangsung. Di samping itu, model Ricardo menyatakan bahwa kenyataan suatu negara memiliki produktivitas yang lebih tinggi di suatu industri dibandingkan dengan luar negeri tidak cukup untuk menjamin bahwa negara tersebut akan selalu mampu mengekspor hasil-hasil industri yang bersangkutan; karena hal itu mensyaratkan produktivitas relatif yang harus lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas relatif di sektor-sektor lain. Sebagaimana yang terjadi, produktivitas perindustrian Amerika Serikat melebihi Inggris di semua sektor seperti yang ditunjukkan oleh Peraga 2-6, dengan kelebihan yang berkisar dan 11 sampai 366 persen. Akan tetapi, di 12 sektor industri, Inggris ternyata mampu mengekspor lebih banyak dan Amerika Serikat. Peraga ini juga menunjukkan bahwa secara umum ekspor Amerika Serikat mampu mengungguli ekspor Inggris hanya pada industri-industri di mana keunggulan produktivitas Amerika Serikat minimal dua kali lipat lebih besar.
Bukti lebih baru bagi model Ricardo tidak sejelas itu. Ini antara lain disebabkan perdagangan dunia dan spesialisasi tiap negara yang begitu pesat tidak memungkinkan kita melihat apa yang dilakukan tiap negara dalam kaitan itu! Dalam perekonomian dunia di era 1990-an, ada sejumlah negara yang sama sekali tidak memproduksi barang yang keunggulan komparatifnya tidak ia kuasai sehingga kita tidak bisa mengukur produktivitasnya di sektor tersebut. Sebagian contoh, kebanyakan negara tidak membuat pesawat terbang sendiri, sehingga tidak ada data tentang berapa kebutuhan tenaga kerjanya, jika hal itu mereka lakukan. Meskipun demikian, ada kepingan-kepingan data yang menunjukkan bahwa perbedaan produktivitas tenaga kerja tetap memainkan peran penting dalam menentukan pola perdagangan dunia.
Hal pokok yang mungkin perlu ditekankan di sini adalah perbedaan produktivitas tenaga kerja antar-negara masih cukup besar, dan perbedaan ini bervariasi pada tiap sektor industri. Sebagai contoh, sebuah penelitian mendapati bahwa produktivitas rata-rata tenaga kerja di Jepang pada sektor manufaktur secara umum di tahun 1990 20 persen lebih rendah ketimbang di AS. Namun, khusus pada sektor industri mobil dan suku cadangnya, produktivitas pekerja Jepang 16 hingga 24 persen lebih tinggi daripada yang ada di AS. Hal ini membuat kita tidak perlu heran kalau Jepang mampu mengekspor jutaan unit mobil ke AS setiap tahunnya.
Dalam kasus otomotif itu, mungkin kita tergoda untuk menduga bahwa hal itu lebih disebabkan oleh keunggulan absolut: karenanya produktivitasnya paling tinggi, maka Jepanglah yang menjadi pengekspor mobil terbesar di dunia. Sedangkan pengaruh keunggulan komparatif lebih bisa dilihat pada perdagangan dunia di sektor industri pakaian. Berdasarkan ukuran mana pun, negara-negara maju seperti AS memiliki produktivitas pekerja industri manufaktur pakaian yang lebih tinggi ketimbang negara-negara industri baru seperti Meksiko atau China. Namun, karena teknologi manufaktur pakaian relatif sederhana, keunggulan produktivitas negara-negara maju di sektor ini lebih rendah ketim­bang keunggulan produktivitas mereka di sektor-sektor lain. Sebagai contoh, pada tahun 1992, produktivitas rata-rata pekerja sektor manufaktur AS sekitar lima kali lebih .tinggi ketimbang di Meksiko, namun khusus di sektor pakaian, keunggulannya mungkin hanya sekitar 50 persen. Karena itu, negara-negara berupah rendahlah yang mengekspor pakaian ke negara-negara berupah tinggi.
Ringkasnya, meskipun tidak banyak ekonom yang meyakini sepenuhnya kegunaan model Ricardo dalam menjelaskan sebab dan akibat perdagangan dunia, dua implikasi utamanya yakni bahwa perbedaan produktivitas memainkan peran penting dalam perda­gangan dunia dan bahwa keunggulan komparatiflah yang menentukan, bukannya keung­gulan absolut  didukung secara meyakinkan oleh data-data yang ada.





0 comments:

Posting Komentar