Label

Rabu, 13 Juni 2012

Keuangan II : LEVERAGE


Leverage (pengungkit), mengacu pada suatu kondisi yang menguntungkan karena memiliki unsur biaya yang stabil yang menunjang suatu tingkat volume yang tinggi. Leverage ada dua macam, leverage operasi dan leverage keuangan. Leverage operasi disebabkan karena sebagian biaya usaha bersifat tetap, sedangkan peningkatan volume operasi yang terjadi cukup besar. Akibatnya laba akan naik atau turun lebih tajam dibandingkan dengan perubahan volume operasi.
Demikian pula, leverage keuangan akan terjadi bila struktur modal suatu perusahaan mengandung hutang (kewajiban) dengan suku bunga yang tetap. Pengaruh leverage keuangan ini identik dengan yang terjadi pada leverage operasi, dimana laba setelah bunga akan naik atau turun lebih tajam daripada fluktuasi volume operasi. Leverage keuangan dan leverage operasi sebenarnya sama pada prinsipnya,  namun disebabkan oleh penyebab yang berbeda.
Baik leverage operasi maupun leverage keuangan dapat hadir dalam setiap perusahaan. Dampak keduanya terhadap laba bersih perusahaan akan saling menguatkan.

Leverage operasi
Pembedaan antara biaya tetap dan variabel adalah sebuah gagasan lama. Pembedaan ini memberikan dasar perhitungan Break Even Point bagi perusahaan atau titik impas. Konsep titik impas pada dasarnya muncul dari sebuah pertanyaan sederhana tentang berapa unit produk atau jasa yang harus terjual untuk menutupi biaya tetap. Harga jual mesti ditetapkan pada suatu tingkat yang cukup sehingga mampu memulihkan semua biaya langsung (biaya variabel) dan memberikan tingkat marjin kontribusi tertentu untuk menutup biaya tetap. Setelah marjin kontribusi yang mencukupi mampu untuk menutupi biaya tetap, maka penambahan setiap unit yang terjual akan menghasilkan laba bagi perusahaan. Kecuali bila lapisan biaya tetap baru muncul karena meningkatnya volume operasi secara signifikan. Dalam hal ini, hitungan-hitungan titik impas yang baru akan muncul.
Kita harus berhati-hati di sini. Tidak ada yang mutlak dalam konsep biaya tetap, karena dalam jangka panjang setiap unsur biaya akan menjadi variabel. Biaya merupakan konsekuensi dari keputusan manajemen. Akibatnya, konsep titik impas harus ditangani dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi.
Seperti yang telah dikemukakan, adanya biaya tetap pada operasi perusahaan cenderung memperbesar laba pada tingkat volume operasi yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan setiap marjin kontribusi dari tambahan unit yang terjual akan lebih besar daripada biaya tetap per unit yang dikeluarkan untuk memproduksinya.
Setelah semua biaya tetap bisa dipulihkan oleh marjin kontribusi, maka laba akan bertumbuh lebih cepat secara disproporsional terhadap pertumbuhan volume. Ini tergantung pada proporsi biaya tetap dan variabel dalam struktur biaya perusahaan. Total penambahan kontribusi dari setiap unit produk tambahan mampu menghasilkan lonjakan besar dalam keseluruhan laba. Sayangnya, pengaruh yang sama juga berlaku bila terjadi penurunan volume operasi, yang mengakibatkan penururunan laba dan akselerasi rugi yang tidak proporsional terhadap pengurangan volume. Kesimpulannya, leverage operasi ini merupakan sebuah pedang bermata dua.
Bagan di bawah ini menggambarkan sifat biaya-biaya dan posisi Break Even Point atau titik impas yang secara general terjadi di banyak perusahaan.
http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/S_s67YKCfaI/AAAAAAAAAX8/SqzueMeQcCI/s320/DOL.JPG
Keterangan:
A    =    Lapisan biaya tetap baru karena volume bertambah
B    =    Tenaga kerja ditambah, sehingga biaya overhead naik
C    =    Overhead akhirnya naik lagi, karena adanya lembur
D    =    Efisiensi dalam operasi mengurangi biaya variabel per unit
E    =    Tenaga kerja tambahan menyebabkan inefisiensi  dan output yang lebih rendah, dengan lebih banyak kerusakan
F    =    Kenaikan output yang terakhir harus dijual dengan harga yang agak rendah, atau sesuai dengan kontrak

Leverage keuangan
Hubungan dasar biaya tetap dan biaya variabel pada pemaparan di atas dapat pula digunakan untuk menelaah pengaruh berbagai proporsi hutang dalam struktur  keuangan/pemodalan perusahaan, yakni untuk menganalisa  tingkat leverage keuangan dari suatu perusahaan. Ada suatu kemiripan signifikan antara leverage operasi dan leverage keuangan, dimana keduanya memungkinkan kita (manajemen) untuk menggali keuntungan dengan memanfaatkan sifat biaya tetap dalam kaitannya dengan penambahan volume.
Dengan leverage keuangan, perusahaan dapat memperoleh manfaat jika uang yang dipinjam dengan suku bunga tetap kemudian digunakan untuk memperoleh tingkat pengembalian (return) yang lebih tinggi daripada tingkat bunga pinjamannya. Selisih tersebut, tentu saja akan diakui sebagai laba untuk pemilik usaha. Perusahaan yang mampu untuk menanamkan modalnya secara konsisten dengan cara ini akan memperoleh tingkat pengembalian yang lebih tinggi daripada tingkat bunga yang berlaku. Perusahaan akan memperoleh manfaat besar jika melakukan perdagangan ekuitas (trading on equity). Pernyataan ini berarti, membuat pinjaman sebanyak mungkin berdasarkan perhitungan yang cermat, akan dapat meningkatkan pengembalian atas ekuitas pemilik, yang berasal dari selisih positif antara tingkat pengembalian dan suku bunga yang harus dibayarkan.
Bagan di bawah ini menunjukkan pengaruh leverage keuangan terhadap tingkat pengembalian ekuitas berdasarkan tiga kondisi pengembalian atas aset bersih (return on net asset / RONA). Ketiga kurva di bawah didasarkan atas asumsi bahwa dana pinjaman diperoleh perusahaan dengan tingkat bunga 9 % setelah pajak {=12% x (1 - 25%). Angka 9 % ini didasarkan asumsi tingkat bunga pinjaman 12% dan tarif pajak yang berlaku di Indonesia adalah 25%.
http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/S_s7bbKAnZI/AAAAAAAAAYE/zdsZl45HE2o/s320/DFL.JPG

Keterangan:
A    =    Pengembalian atas aktiva neto 20%
B    =    Pengembalian atas aktiva neto 12%
C    =    Pengembalian atas aktiva neto   5%



Jika tingkat pengembalian normal atas kapasitas perusahaan sebelum bunga dan setelah pajak (RONA) adalah 20% (kurva A), maka kenaikan proporsi hutang akan menyebabkan peningkatan yang dramatis pada tingkat pengembalian atas ekuitas (return on equity / ROE) perusahaan. Tingkat pengembalian ini  akan melonjak sampai mendekati bilangan tak terhingga jika proporsi pinjaman mendekati 100%. Sementara itu, kurva B dan C menunjukkan pengaruh leverage dengan keuntungan yang tidak terlalu mencolok. Semula memang agak mendatar, namun tingkat pengembalian atas modal akan meningkat bila proporsi pinjaman bertambah besar.
Akan tetapi, jangan lupa bahwa pengaruh leverage berlaku pula untuk arah yang berlawanan. Dampak ini terlihat jelas pada jarak di antara kurva A, B dan C yang semakin menjauh jika proporsi pinjaman semakin besar. Jika pendapatan menurun, tingkat pengembalian atas ekuitas akan turun sangat cepat.
Untuk menyatakan hubungan leverage keuangan, kita mulai dengan mendefinisikan komponennya. Laba setelah pajak (L) sekarang harus dibubungkan dengan ekuitas modal (M) dan hutang jangka panjang (H) yang akan dikenakan bunga setelah pajak sebesar b. Kita juga menghitung tingkat pengembalian atas ekuitas (P) dan tingkat pengembalian atas aktiva bersih (kapitalisasi) sebelum bunga dan setelah pajak sebesar p. Pertama-tama kita tentukan tingkat pengembalian atas modal sebagai:
P    =    L/M                                           ….   (Rumus pertama)
Dengan tingkat pengembalian atas kapitalisasi (jumlah modal dan hutang) sebagai:
p    =   { L + (H x b) } / (M + H)             ….   (Rumus kedua)
Dengan menggunakan kalkulasi ini, maka sekarang kita merumuskan kembali laba (L) dengan komponennya sebagai berikut:
L     = {p (M+H) } - (H x b)                    ….   (Rumus ketiga)
Hitungan di atas menunjukkan selisih antara pengembalian atas total kapitalisasi (M+H) dengan biaya bunga setelah pajak atas hutang yang masih beredar (b). Kemudian rumus pertama di atas dapat ditulis ulang menjadi:
P    = {p (M+H) - (H x b)} / M                 ….    (Penurunan rumus pertama)
yang dapat diringkas menjadi persamaan final:
P    = p + {(H/M) (p - b)}                          ….    (Persamaan final)
Persamaan final ini memperlihatkan pengaruh leverage yang merupakan selisih perubahan positif, yakni proporsi hutang terhadap ekuitas (H/M) dikalikan dengan selisih  antara pengembalian atas aktiva bersih dan biaya bunga setelah pajak (p - b). Jadi bisa terlihat bahwa adanya penambahan proporsi hutang ke dalam struktur modal perusahaan akan menyebabkan pengembalian atas ekuitas semakin besar sebesar (H/M) selama biaya bunga tidak melebihi kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Namun bila jumlah hutang dalam struktur permodalan semakin besar, Anda juga dianjurkan untuk mempertimbangkan dampak leverage yang berlawanan, yakni bila beban bunga ternyata melebihi kemampuan untuk menghasilkan pengembalian atas investasi yang dilakukan dengan pinjaman dana tersebut.
Kita juga dapat membalik perhitungan, yakni membahas dampak leverage terhadap tingkat pengembalian atas aktiva bersih, atau p yang diperlukan untuk memberikan tingkat pengembalian atas modal sendiri (ekuitas) atau tingkat P tertentu.
Dengan tingkat bunga setelah pajak, b = 9% dan target pengembalian atas modal sendiri, P = 12%, kita dapat menentukan tingkat pengembalian minimum atas investasi dalam aktiva bersih (p) yang diperlukan dengan variasi-variasi struktur permodalan sebagai berikut.

H = 0% dan M = 100% maka p = 12,0 %
H = 25% dan M = 75% maka p = 11,3 %
H = 50% dan M = 50% maka p = 10,5 %
H = 75% dan M = 25% maka p =   9,8 %
H = 100% dan M = 0% maka p =   9,0 %

Untuk struktur modal yang menggunakan  hutang 100% (fully leverage), maka tingkat pengembalian minimum atas investasi dalamaktiva bersih (p) harus setidaknya 9% atau sama dengan tingkat bunga setelah pajak berdasarkan perhitungan di atas. Perhitungan dengan angka-angka ini boleh dikatakan mudah. Namun jauh lebih sulit menafsirkan kondisi-kondisi tersebut dan mengolahnya menjadi suatu strategi keuangan perusahaan yang tepat. Tidak ada manajemen yang leluasa dalam menentukan sendiri struktur modal perusahaan.
Untuk kepentingannya sendiri, pada kreditur atau pemberi pinjaman biasanya akan menentukan batas tertinggi dari pinjaman yang dapat diperoleh perusahaan. Untuk perusahaan manufaktur, lazimnya struktur hutang jangka panjangnya berkisar antara 0 - 50% dari seluruh kapitalisasi, sedangkan pada perusahaan pelayanan umum akan berkisar antara 30 - 60%. Perusahaan dagang yang memiliki aktiva likuid dalam jumlah besar bisa membuat hutang dalam proporsi yang lebih besar lagi. Fakta masa lalu menunjukkan bahwa tren leveraged buyout sejak tahun 1980-an telah menyebabkan tingkat hutang yang jauh di atas “normal” bagi struktur permodalan beberapa perusahaan. Dalam hal ini, leverage keuangan yang digunakan adalah yang semaksimal mungkin, yang juga dengan cepat memperbesar risiko bila terjadi dampak yang berlawanan saat arus kas turun di bawah perkiraan. Sama halnya dengan leverage operasi, leverage keuangan juga merupakan pedang bermata dua.
Kesimpulannya, leverage operasi dan leverage keuangan merupakan dua faktor dari sekian banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

0 comments:

Posting Komentar