Label

Rabu, 13 Juni 2012

Keuangan II : LAPORAN KEUANGAN


LAPORAN KEUANGAN BISNIS

PENDAHULUAN
Perusahaan, kreditur dan investor semuanya melakukan analisis keuangan. Tipe analisisnya beragam sesuai dengan kepentingan pihak-pihak yang terlibat. Kreditur barang dagangan (pemasok pinjaman uang untuk barang dan jasa) terutama tertarik dengan likuiditas perusahaan. Kredit jangka pendek dan kemampuan perusahaan melunasi hutangnya dengan cepat merupakan pertimbangan terbaik dari analisis likuiditas perusahaan.
Sebaliknya hutang obligasi adalah hutang jangka panjang. Jadi investor yang membeli obligasi Iebih tertarik untuk menganalisis kemampuan aliran kas perusahaan untuk melunasi hutang selama periode waktu yang panjang (yang lama). Investor mungkin mengevaluasi kemampuan perusahaan tersebut dengan analisis struktur modal perusahaan, sumber dan penggunaan dana, profitabilitas perusahaan sepanjang waktu, dan proyeksi probabilitas dimasa yang akan datang.
        Investor saham biasa, perusahaan Iebih memperhatikan stabilitas penghasilan sekarang dan penghasilan yang diharapkan. OIeh karena itu, investor biasanya lebih memusatkan perhatiannya pada analisis profitabilitas perusahaan. Mereka juga memperhatikan kondisi keuangan perusahaan dalam kaitannya dengan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen dan terhindar dari kebangkrutan.

LAPORAN KEUANGAN

Analisis keuangan berhubungan dengan penggunaan berbagai laporan keuangan yang menunjukkan beberapa hal. Pertama, neraca meringkaskan aset, utang dan modal sendiri perusahaan pada waktu tertentu (biasanya akhir tahun). Kedua, laporan laba-rugi meringkaskan penghasilan dan biaya-biaya perusahaan selama periode waktu tertentu (biasanya satu tahun).
Neraca menunjukkan gambaran dan posisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu. Dan kedua laporan tersebut (dengan tambahan sedikit informasi) dapat dibuat laporan turunan tertentu seperti laporan laba yang ditahan, laporan penggunaan dana dan laporan aliran kas.

INFORMASI NERACA

Aktiva ditulis berdasarkan urutan tingkat likuiditasnya. Kas adalah aktiva yang paling likuid sehingga ditulis paling atas. Ada beberapa perusahaan yang mencatat surat berharga yang diperdagangkan (Marketable Securities) tersendiri dan diletakkan di bawah rekening kas pada neracanya. Ada pula yang memasukkan surat berharga tersebut menjadi satu dengan kas menjadi rekening kas dan yang disamakan dengan kas. Kemudian di bawahnya rekening piutang dagang, yang biasanya memiliki tenggang waktu satu atau dua bulan sebelum dilunasi menjadi uang kas. Setelah itu rekening persediaan yang merupakan produk dari suatu produksi. Produk tersebut harus dijual Iebih dahulu untuk menjadi piutang dagang baru setelah dilunasi menjadi uang kas. Aktiva tetap, investasi jangka panjang, dan aktiva jangka panjang lainnya adalah paling tidak likuid sehingga ditulis paling bawah dari seluruh aktiva.
Semua hutang lancar adalah hutang jangka pendek, waktu kurang dari satu tahun, sedangkan hutang jangka panjang jatuh temponya lebih dari satu tahun. Kekayaan para pemegang saham akan dibayar melalui dividen kas regular dan mungkin dividen likuidasi final.
Laba yang ditahan adalah bukan tumpukan kas (atau aktiva lainnya) tetapi hanya suatu catatan akuntansi yang digunakan untuk menunjukkan sumber pembelanjaan dari aset perusahaan.

Berikut adalah sebuah contoh neraca secara umum (PT. Maju Bersama, Neraca per 31 Desember 20XX) :
PT. MAJU BERSAMA
NERACA
31 DESEMBER 2OXX
AKTIVA LANCAR


UTANG LANCAR


Kas
500.000
Utang Lancar
100.000
Efek
100.000
Utang Dagang
50.000
Piutang Dagang
300.000
Utang Wesel
50.000
Persediaan
800.000
Utang Pajak
150.000
Total Aktiva Lancar
1.700.000

350.000




AKTIVA TETAP

UTANG JANGKA PANJANG



Hipotik
500.000
Tanah
1.500.000
Obligasi
500.000
Peralatan
1.000.000
Total Utang Jangka Panjang
1.000.000
Penyusutan peralatan
- 500.000


Total Aktiva Tetap
2.000.000
MODAL



Modal sendiri
500.000


Modal saham
500.000


Agio saham
350.000


Laba ditahan
1.000.000


Total Modal
2.350.000




TOTAL AKTIVA
Rp.3.700.000
TOTAL PASIVA
Rp.3.700.000

INFORMASI LAPORAN LABA RUGI

Laporan laba-rugi menunjukkan penghasilan, biaya dan laba bersih untuk dua tahun seperti pada neraca. Harga pokok penjualan (Cost Of Good Sold/COGS) menunjukan biaya produk yang diproduksi secara nyata dan dijual selama periode tersebut. termasuk disini adalah biaya bahan mentah, biaya tenaga kerja yang berkaitan dengan produksi, dan biaya overhead pabrik. Biaya penjualan, umum dan administrasi seperti juga biaya bunga ditunjukkan secara terpisah dari harga pokok penjualan, karena biaya tersebut dipandang sebagai biaya-biaya periode dari biaya-biaya produk.
Adapun Informasi Laporan Laba-Rugi PT.Maju Bersama adalah sebagai berikut:

PT. MAJU BERSAMA
LAPORAN LABA-RUGI
31 DESEMSER 2OXX

Penjualan                                                                                         Rp.3.000.000
Harga Pokok                                                                                     (Rp.500.000)
Laba Kotor                                                                                         Rp.2.500.000

Biaya Administrasi                                                                          (Rp.500.000)
Laba Operasi                                                                                    Rp.2.000.000
Biaya Bunga                                                                                                 (Rp.500.000)
Laba Sebelum Pajak                                                                      Rp.1.500.000
Pajak (10%)                                                                                      (Rp.150.000)
Laba Bersih                                                                                      Rp.1.350.000
Dividen                                                                                              Rp.(800.000)
Laba Ditahan                                                                                    Rp.550.000

KERANGKA KERJA ANALISIS

Beberapa pendekatan yang berbeda digunakan dalam analisis perusahaan. Para pakar analisis memiliki prosedur yang disenangi berasal dari beberapa generalisasi perusahaan yang dianalisis.
Berapa banyak dana yang dibutuhkan diwaktu yang akan datang dan apa sifat dasar dari kebutuhan tersebut? alat-alat analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain laporan sumber dan penggunaan dana, laporan aliran kas dan anggaran kas.
Keahlian para analis menggunaan rasio keuangan menyerupai keahlian dokter menggunakan hasil tes laboratunium. Sebagai kombinasi dan waktunya yang Iama data ini menawarkan wawasan yang berharga tentang kesehatan suatu perusahaan seperti kondisi keuangan dan profitabilitas perusahaan. Memenuhi bagian pertama dari tiga faktor yang ada adalah analisis risiko bisnis perusahaan. Risiko bisnis berhubungan dengan risiko yang melekat dalam operasi perusahaan.
Beberapa perusahaan ada dalam jalur bisnis yang mudah berubah dari kemungkinan beroperasi dekat dengan titik “break even”-nya. Perusahaan lain ada dalam jalur bisnis yang stabil dan beroperasi jauh di atas “break even”-nya. Perusahaan lain ada dalam jalur bisnis yang stabil dan beroperasi jauh diatas “break even”-nya.
Perusahaan lain ada dalam jalur bisnis yang stabil dan beroperasi jauh di atas titik “break even”-nya perusahaan lain ada dalam jalur bisnis yang stabildan beroperasi jauh diatas “break even”-nya. Peralatan mesin perusahaan mungkin termasuk dalam kategori pertama sedangkan kegunaan elektronik yang menghasilkan kemungkinan jatuh pada kategori terakhir. Para penganalisis perlu untuk memperkirakan tingkat risiko bisnis dari perusahaan yang dianalisis.
Ketiga faktor tersebut harus digunakan dalam menentukan kebutuhan keuangan perusahaan. Selanjutnya faktor tersebut harus digunakan secara gabungan. Semakin besar dana yang dibutuhkan berarti semakin besar total pembelanjaan yang akan diperlukan. Sifat kebutuhan dana mempengaruhi tipe pembelanjaan yang harus digunakan. Apabila ada komponen bisnis musiman, maka harus dipenuhi dengan pembelanjaan jangka pendek. Tingkat rasio bisnis perusahaan juga sangat mempengaruhi tipe pembelanjaan yang harus digunakan.
Semakin besar risiko bisnis berarti kecil keinginan untuk memenuhi dengan pembelanjaan hutang, biasanya cenderung dipenuhi dengan pembelanjaan saham biasa. Dengan kata lain, pembelanjaan (modal) sendiri lebih aman dari pembelanjaan hutang yang harus membayar bunga dan pokok pinjaman.
Perusahaan yang memiliki resiko bisnis tinggi, umumnya keliru mengambil resiko keuangan yang telah dipertimbangkan dengan baik. Kondisi keuangan dan prestasi perusahaan juga mempengaruhi tipe likuiditas perusahaan, semakin kuat kondisi  keuangan perusahaan berarti semakin berisiko pula tipe pembelanjaan yang akan digunakan. ltulah sebabnya pembelanjaan hutang menjadi lebih menarik dengan  pertumbuhan dalam likuiditas, kondisi keuangan dan profitabilitas.
Perusahaan memperkirakan kebutuhannya adalah 1 miliar rupiah dan dipenuhi dengan pembelanjaan jangka pendek, tetapi pemasok mungkin tidak setuju dengan jumlah uang dan tipe pembelanjaan yang diminta oleh manajemen perusahaan.
Pada akhirnya, perusahaan harus berkompromi dengan pemasok modal untuk kesepakatan yang sesuai dengan realita pasar. lnteraksi perusahaan dengan pemasok modal menentukan jumlah, waktu dan harga pembelanjaan. Negosiasi tersebut sering tidak terlalu jauh berubah dari tipe tawarannya, meskipun biasanya dari tingkat decibel yang lebih rendah. Disetiap kejadian, fakta bahwa perusahaan harus bernegosiasi dengan pemasok modal dari luar, dilayani seperti suatu mekanisme umpan balik pada faktor lainnya dalam gambar.

0 comments:

Posting Komentar